Kamis, 12 Maret 2026

Perempuan, Viralitas, dan Luka di Media Sosial

-Oleh Felixe M

Media sosial kembali ramai dengan beredarnya potongan video panggilan pribadi seorang perempuan yang dikenal sebagai figur di internet. Video yang seharusnya berada di ruang privat tiba-tiba tersebar ke mana-mana. Dari satu akun ke akun lain, dari satu grup ke grup lain. Orang bagikan, orang tertawa, orang kasih komentar pedas, seolah-olah itu cuma hiburan biasa di dunia maya.

Yang jadi masalah sebenarnya bukan cuma soal video itu benar atau tidak. Di media sosial sekarang, kadang orang tidak terlalu peduli lagi soal kebenaran. Yang penting ramai dulu. Yang penting viral dulu. Setelah itu baru orang mulai bicara ini salah atau benar.

Dan seperti kejadian-kejadian sebelumnya, pola yang sama kembali terjadi. Ketika ada kasus seperti ini, yang paling cepat diserang hampir selalu perempuan. Nama dia disebut di mana-mana, wajahnya jadi bahan pembicaraan, moralnya langsung dihakimi. Padahal kalau kita pikir dengan tenang, dalam kejadian seperti ini pasti tidak hanya ada satu orang saja. Ada laki-laki di dalam percakapan itu. Ada orang yang merekam. Ada juga orang yang menyebarkan sampai akhirnya video itu beredar luas.Tapi anehnya, penyerangan orang di media sosial sering hanya diarahkan ke satu orang saja. Perempuan itu yang jadi sasaran. Seolah-olah semua kesalahan ada di dia.

Yang lebih miris lagi, kadang komentar paling kasar justru datang dari sesama perempuan. Bahasa yang dipakai kadang sangat tajam dan merendahkan. Padahal kalau kita pikir baik-baik, perempuan harusnya bisa saling jaga, saling ingatkan, bukan malah tambah jatuhkan. Tapi memang begitu manusia. Orang lebih senang lihat satu kesalahan daripada seribu kebaikan yang pernah seseorang buat. Begitu orang jatuh sedikit saja, ramai-ramai datang bukan untuk bantu angkat, tapi untuk tambah dorong dia jatuh lebih dalam.

Tulisan ini bukan untuk membela siapa-siapa. Ini juga bukan untuk bilang bahwa semua yang terjadi itu benar. Yang salah tetap salah. Tapi kita juga harus jujur melihat satu kenyataan bahwa budaya mempermalukan orang di media sosial sekarang sudah seperti hiburan bersama. Orang dengan mudah sekali bagikan video orang lain. Ada yang tertawa. Ada yang bikin konten dari situ. Ada yang cari perhatian dari situ. Semua ikut arus viral tanpa pikir panjang.

Padahal di balik layar ponsel yang kita pegang itu ada manusia yang hidup di dunia nyata. Dia punya keluarga. Punya orang tua. Punya saudara. Punya lingkungan tempat dia tinggal.

Banyak orang yang tertawa dan membagikan video seperti itu mungkin tidak pernah berhenti sebentar untuk berpikir. Mereka hanya lihat layar ponsel. Lihat potongan video. Lihat bahan hiburan. Tapi mereka lupa bahwa orang yang ada di dalam video itu tetap harus menjalani hidupnya di dunia nyata.

Dia masih harus bangun pagi seperti orang lain. Masih harus keluar rumah. Masih harus jalan di lingkungan yang sama. Masih harus bertemu orang-orang di sekitar dia.

Coba bayangkan bagaimana rasanya kalau seseorang berjalan di lingkungan sendiri tapi merasa semua mata melihat ke arah dia. Ada orang yang mungkin sudah menonton videonya. Ada yang sudah bagikan. Ada yang diam tapi bisik-bisik di belakang.

Di media sosial orang cuma butuh satu detik untuk tekan tombol bagikan. Tapi di kehidupan nyata seseorang bisa menanggung rasa malu itu lama sekali. Orang yang menonton dan tertawa mungkin beberapa hari sudah lupa. Mereka pindah ke viral yang lain. Pindah ke gosip yang lain. Pindah ke bahan hiburan yang lain.

Tapi bagi orang yang jadi korban, hidup tidak sesederhana itu.

Dia harus menghadapi tatapan orang. Dia harus menghadapi pertanyaan dari keluarga. Dia harus menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar. Bahkan keluarga yang tidak tahu apa-apa bisa ikut merasakan malu karena kejadian itu.

Hal-hal seperti ini sering sekali tidak dipikirkan oleh orang yang dengan mudah menyebarkan video di media sosial.

Fenomena seperti ini juga yang membuat sekarang mulai banyak orang bicara soal pembatasan media sosial bagi anak-anak. Bahkan ada wacana bahwa anak di bawah umur enam belas tahun sebaiknya tidak bebas menggunakan media sosial tanpa pengawasan.

Bukan tanpa alasan. Anak-anak juga lihat semua ini. Mereka lihat bagaimana orang dihina di internet. Mereka lihat bagaimana kehidupan pribadi seseorang dijadikan bahan tontonan. Mereka lihat bagaimana kesalahan seseorang dijadikan hiburan ramai-ramai.

Kalau dari kecil mereka sudah terbiasa lihat hal seperti itu, lama-lama rasa empati bisa hilang.

Melalui tulisan ini saya juga ingin ingatkan terutama kepada perempuan di mana saja yang sedang membaca. Hati-hati dalam menggunakan media sosial. Dunia digital tidak selalu aman seperti yang kita bayangkan.

Kalau sudah mulai masuk ke hal-hal yang sangat pribadi, apalagi yang berkaitan dengan hal seksual di ruang digital, harus benar-benar pikir baik-baik. Video call pribadi, foto pribadi, atau percakapan yang sangat intim bisa saja suatu hari disalahgunakan oleh orang lain.

Sekali sesuatu keluar dari ruang privat, kita hampir tidak punya kendali lagi. Internet tidak pernah benar-benar lupa. Gunakan media sosial dengan pikiran yang bijak. Jangan terlalu cepat percaya orang di dunia digital. Di layar orang bisa terlihat baik, tapi kita tidak pernah benar-benar tahu niat mereka.

Sedikit refleksi juga untuk kita yang hidup di tanah Papua. Dari dulu orang tua selalu ajarkan satu hal sederhana. Hormati orang lain. Jaga martabat sesama manusia.

Tapi kadang di media sosial kita juga ikut arus. Begitu ada orang jatuh dalam masalah, kita ikut tertawa. Ikut bagikan. Ikut komentar tanpa pikir panjang. Padahal siapa tahu besok lusa kita atau orang yang kita kenal bisa berada di posisi yang sama. Kalau kita tidak bisa bantu orang yang sedang jatuh, setidaknya jangan tambah mempermalukan dia di depan publik.

Media sosial harusnya jadi tempat berbagi pengetahuan dan saling menguatkan. Bukan tempat merayakan kejatuhan orang lain.

Karena pada akhirnya yang menentukan kualitas kita sebagai manusia bukan seberapa cepat kita menghakimi kesalahan orang lain, tapi seberapa besar empati kita ketika melihat orang lain sedang jatuh.

Jadi sebelum kitong tekan tombol bagikan atau tulis komentar yang menghina, coba pikir dulu dengan seksama.Apakah kitong sedang menjadi manusia yang punya hati, atau hanya ikut jadi bagian dari keramaian yang menikmati penderitaan orang lain.

#refleksi #stopsebarvideoviral #bijaklah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perempuan, Viralitas, dan Luka di Media Sosial

-Oleh Felixe M Media sosial kembali ramai dengan beredarnya potongan video panggilan pribadi seorang perempuan yang dikenal sebagai figur d...