https://drive.google.com/file/d/10Xoc5BleoeRfTCoaCNpPBkcAfv9B1SFO/view?usp=drivesdk
Felixe
Senin, 13 April 2026
Sound Walk
Selasa, 24 Maret 2026
Weekend at Sawayepa Beach
Berikut adalah poin penting mengenai Pantai Sawayepa: Lokasi: Terletak di kawasan Depapre, Kabupaten Jayapura. Karakteristik: Menawarkan keindahan alam berupa pasir putih halus dan air laut yang jernih. Suasana: Tenang, cocok untuk relaksasi. Status: Sempat viral, namun berdasarkan informasi terbaru, tempat ini ditutup sementara.
#infoterkini #pantaisawayepa #weekend #TTS
Kamis, 12 Maret 2026
Perempuan, Viralitas, dan Luka di Media Sosial
Media sosial kembali ramai dengan beredarnya potongan video panggilan pribadi seorang perempuan yang dikenal sebagai figur di internet. Video yang seharusnya berada di ruang privat tiba-tiba tersebar ke mana-mana. Dari satu akun ke akun lain, dari satu grup ke grup lain. Orang bagikan, orang tertawa, orang kasih komentar pedas, seolah-olah itu cuma hiburan biasa di dunia maya.
Yang jadi masalah sebenarnya bukan cuma soal video itu benar atau tidak. Di media sosial sekarang, kadang orang tidak terlalu peduli lagi soal kebenaran. Yang penting ramai dulu. Yang penting viral dulu. Setelah itu baru orang mulai bicara ini salah atau benar.
Dan seperti kejadian-kejadian sebelumnya, pola yang sama kembali terjadi. Ketika ada kasus seperti ini, yang paling cepat diserang hampir selalu perempuan. Nama dia disebut di mana-mana, wajahnya jadi bahan pembicaraan, moralnya langsung dihakimi. Padahal kalau kita pikir dengan tenang, dalam kejadian seperti ini pasti tidak hanya ada satu orang saja. Ada laki-laki di dalam percakapan itu. Ada orang yang merekam. Ada juga orang yang menyebarkan sampai akhirnya video itu beredar luas.Tapi anehnya, penyerangan orang di media sosial sering hanya diarahkan ke satu orang saja. Perempuan itu yang jadi sasaran. Seolah-olah semua kesalahan ada di dia.
Yang lebih miris lagi, kadang komentar paling kasar justru datang dari sesama perempuan. Bahasa yang dipakai kadang sangat tajam dan merendahkan. Padahal kalau kita pikir baik-baik, perempuan harusnya bisa saling jaga, saling ingatkan, bukan malah tambah jatuhkan. Tapi memang begitu manusia. Orang lebih senang lihat satu kesalahan daripada seribu kebaikan yang pernah seseorang buat. Begitu orang jatuh sedikit saja, ramai-ramai datang bukan untuk bantu angkat, tapi untuk tambah dorong dia jatuh lebih dalam.
Tulisan ini bukan untuk membela siapa-siapa. Ini juga bukan untuk bilang bahwa semua yang terjadi itu benar. Yang salah tetap salah. Tapi kita juga harus jujur melihat satu kenyataan bahwa budaya mempermalukan orang di media sosial sekarang sudah seperti hiburan bersama. Orang dengan mudah sekali bagikan video orang lain. Ada yang tertawa. Ada yang bikin konten dari situ. Ada yang cari perhatian dari situ. Semua ikut arus viral tanpa pikir panjang.
Padahal di balik layar ponsel yang kita pegang itu ada manusia yang hidup di dunia nyata. Dia punya keluarga. Punya orang tua. Punya saudara. Punya lingkungan tempat dia tinggal.
Banyak orang yang tertawa dan membagikan video seperti itu mungkin tidak pernah berhenti sebentar untuk berpikir. Mereka hanya lihat layar ponsel. Lihat potongan video. Lihat bahan hiburan. Tapi mereka lupa bahwa orang yang ada di dalam video itu tetap harus menjalani hidupnya di dunia nyata.
Dia masih harus bangun pagi seperti orang lain. Masih harus keluar rumah. Masih harus jalan di lingkungan yang sama. Masih harus bertemu orang-orang di sekitar dia.
Coba bayangkan bagaimana rasanya kalau seseorang berjalan di lingkungan sendiri tapi merasa semua mata melihat ke arah dia. Ada orang yang mungkin sudah menonton videonya. Ada yang sudah bagikan. Ada yang diam tapi bisik-bisik di belakang.
Di media sosial orang cuma butuh satu detik untuk tekan tombol bagikan. Tapi di kehidupan nyata seseorang bisa menanggung rasa malu itu lama sekali. Orang yang menonton dan tertawa mungkin beberapa hari sudah lupa. Mereka pindah ke viral yang lain. Pindah ke gosip yang lain. Pindah ke bahan hiburan yang lain.
Tapi bagi orang yang jadi korban, hidup tidak sesederhana itu.
Dia harus menghadapi tatapan orang. Dia harus menghadapi pertanyaan dari keluarga. Dia harus menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar. Bahkan keluarga yang tidak tahu apa-apa bisa ikut merasakan malu karena kejadian itu.
Hal-hal seperti ini sering sekali tidak dipikirkan oleh orang yang dengan mudah menyebarkan video di media sosial.
Fenomena seperti ini juga yang membuat sekarang mulai banyak orang bicara soal pembatasan media sosial bagi anak-anak. Bahkan ada wacana bahwa anak di bawah umur enam belas tahun sebaiknya tidak bebas menggunakan media sosial tanpa pengawasan.
Bukan tanpa alasan. Anak-anak juga lihat semua ini. Mereka lihat bagaimana orang dihina di internet. Mereka lihat bagaimana kehidupan pribadi seseorang dijadikan bahan tontonan. Mereka lihat bagaimana kesalahan seseorang dijadikan hiburan ramai-ramai.
Kalau dari kecil mereka sudah terbiasa lihat hal seperti itu, lama-lama rasa empati bisa hilang.
Melalui tulisan ini saya juga ingin ingatkan terutama kepada perempuan di mana saja yang sedang membaca. Hati-hati dalam menggunakan media sosial. Dunia digital tidak selalu aman seperti yang kita bayangkan.
Kalau sudah mulai masuk ke hal-hal yang sangat pribadi, apalagi yang berkaitan dengan hal seksual di ruang digital, harus benar-benar pikir baik-baik. Video call pribadi, foto pribadi, atau percakapan yang sangat intim bisa saja suatu hari disalahgunakan oleh orang lain.
Sekali sesuatu keluar dari ruang privat, kita hampir tidak punya kendali lagi. Internet tidak pernah benar-benar lupa. Gunakan media sosial dengan pikiran yang bijak. Jangan terlalu cepat percaya orang di dunia digital. Di layar orang bisa terlihat baik, tapi kita tidak pernah benar-benar tahu niat mereka.
Sedikit refleksi juga untuk kita yang hidup di tanah Papua. Dari dulu orang tua selalu ajarkan satu hal sederhana. Hormati orang lain. Jaga martabat sesama manusia.
Tapi kadang di media sosial kita juga ikut arus. Begitu ada orang jatuh dalam masalah, kita ikut tertawa. Ikut bagikan. Ikut komentar tanpa pikir panjang. Padahal siapa tahu besok lusa kita atau orang yang kita kenal bisa berada di posisi yang sama. Kalau kita tidak bisa bantu orang yang sedang jatuh, setidaknya jangan tambah mempermalukan dia di depan publik.
Media sosial harusnya jadi tempat berbagi pengetahuan dan saling menguatkan. Bukan tempat merayakan kejatuhan orang lain.
Karena pada akhirnya yang menentukan kualitas kita sebagai manusia bukan seberapa cepat kita menghakimi kesalahan orang lain, tapi seberapa besar empati kita ketika melihat orang lain sedang jatuh.
Jadi sebelum kitong tekan tombol bagikan atau tulis komentar yang menghina, coba pikir dulu dengan seksama.Apakah kitong sedang menjadi manusia yang punya hati, atau hanya ikut jadi bagian dari keramaian yang menikmati penderitaan orang lain.
#refleksi #stopsebarvideoviral #bijaklah
Rabu, 11 Maret 2026
Langkah Awal Saya Belajar Tari Nusantara Melalui Tari Seudati di Taman Budaya Papua
Pada acara Festival Seni Budaya Paguyuban Nusantara yang diselenggarakan di Taman Budaya Papua di Waena, kami menampilkan salah satu tarian tradisional dari Aceh yaitu Tari Seudati. Acara ini menjadi salah satu kegiatan seni yang mempertemukan berbagai budaya dari daerah yang berbeda. Dilaksanakan di tanah Papua, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi para mahasiswa seni untuk belajar, berbagi, dan menunjukkan kecintaan terhadap keberagaman budaya Indonesia.
Tari Seudati dikenal sebagai tarian yang memiliki gerakan kuat, energik, dan penuh semangat. Biasanya tarian ini dibawakan oleh delapan orang penari laki-laki. Dalam tarian ini juga ada seorang pemimpin yang disebut syeh, yang bertugas memimpin gerakan dan mengatur ritme para penari. Gerakan Tari Seudati sangat khas, seperti hentakan kaki, tepukan dada, tepukan paha, serta gerakan tangan yang dilakukan secara kompak sehingga terlihat kuat dan penuh energi.
Namun pada penampilan kami di Festival Seni Budaya Paguyuban Nusantara di Taman Budaya Papua, jumlah penari yang tampil tidak sampai delapan orang seperti dalam bentuk aslinya. Hal ini disesuaikan dengan jumlah penari yang tersedia saat latihan dan penampilan. Walaupun begitu, kami tetap berusaha menampilkan tarian ini dengan baik dan menjaga kekompakan gerakan agar tetap mencerminkan semangat Tari Seudati.
Kami yang membawakan Tari Seudati ini semuanya adalah orang asli Papua. Walaupun tarian ini berasal dari Aceh yang berada sangat jauh dari Papua, kami tetap mempelajarinya sebagai bentuk penghargaan terhadap keberagaman budaya di Indonesia. Di tengah kekayaan budaya Papua yang juga sangat kuat, kami merasa bangga dapat mempelajari dan menampilkan budaya dari daerah lain.
Dalam penampilan ini, dosen kami yang berasal dari Bali juga ikut ambil bagian dalam tarian. Beliau berperan sebagai syeh, yaitu pemimpin dalam Tari Seudati yang memimpin gerakan dan membantu mengatur ritme para penari di atas panggung. Selama proses latihan, beliau juga membimbing kami agar gerakan yang kami lakukan bisa lebih kompak dan sesuai dengan karakter Tari Seudati.
Bagi saya pribadi, penampilan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Ini adalah pertama kalinya saya membawakan tari Nusantara. Selama saya terjun dalam dunia tari, saya lebih sering menarikan tarian dari daerah saya sendiri di Papua. Karena itu, kesempatan ini menjadi pengalaman baru bagi saya untuk mengenal lebih dekat tarian dari daerah lain di Indonesia.
Melalui latihan dan proses tampil di atas panggung, saya belajar banyak hal. Saya harus menyesuaikan diri dengan gerakan Tari Seudati yang kuat dan penuh semangat. Saya juga belajar menjaga kekompakan dengan penari lainnya agar gerakan kami terlihat rapi dan serasi. Pengalaman ini juga membuat saya semakin tertarik untuk mempelajari berbagai tarian Nusantara lainnya.
Penampilan di Taman Budaya Papua di Waena ini menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Dari tanah Papua, kami belajar bahwa seni dapat menyatukan berbagai budaya yang berbeda. Melalui tari, kita dapat saling mengenal, menghargai, dan menjaga keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia.
Pengalaman ini juga memberikan pesan bahwa sebagai generasi muda, kita perlu terus belajar dan menghargai budaya, baik budaya daerah sendiri maupun budaya dari daerah lain. Dengan begitu, kita dapat ikut menjaga dan melestarikan kekayaan budaya bangsa.
Senin, 09 Maret 2026
Kenapa Kitong Rela Bayar Mahal di Toko, Tapi Masih Tega Menawar Mama yang Duduk Jualan di Tanah?
Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri tentang hal ini. Mengapa ketika berbelanja di toko kita hampir tidak pernah menawar harga, tetapi ketika datang ke pasar dan melihat mama-mama yang duduk berjualan di tanah, kita justru sibuk menawar harga yang sebenarnya sudah sangat murah.
Di toko-toko besar kita terbiasa membayar sesuai harga yang tertera. Tidak ada tawar-menawar. Kita mengambil barang, menuju kasir, lalu membayar tanpa banyak berpikir. Tetapi suasananya sering berbeda ketika kita berada di pasar tradisional. Di sana, ketika melihat mama-mama yang menjual hasil kebun mereka sendiri, tiba-tiba kita merasa harga itu masih bisa diturunkan. Padahal mama-mama itu tidak datang ke pasar untuk menjadi kaya. Mereka hanya membawa apa yang mereka miliki dari kebun. Singkong, keladi, petatas, sayur bunga pepaya, kangkung, rica, tomat, pisang, dan beberapa bumbu dapur. Semua itu mereka siapkan sejak pagi, bahkan mungkin sejak subuh. Setelah itu mereka membawanya ke pasar dan duduk berjam-jam di atas tikar sederhana, berharap ada yang membeli.
Bagi kita mungkin sepuluh ribu rupiah terlihat kecil. Tetapi bagi mereka, uang itu bisa berarti beras untuk makan malam, atau kebutuhan kecil untuk anak-anak mereka di rumah. Di balik harga yang kita tawar sebenarnya ada tenaga, waktu, dan harapan yang mereka bawa dari rumah.
Suatu hari ketika saya berbelanja di pasar, saya melihat sendiri sebuah kejadian yang membuat saya cukup terdiam. Saat itu ada seorang mama yang sedang duduk di tanah dengan tikar sederhana. Di depannya tersusun sayur-sayuran yang ia jual. Harganya tidak mahal, hanya sepuluh ribu rupiah satu ikat. Saya juga melihat jualannya masih sangat banyak, padahal waktu sudah lewat siang dan hari mulai sore.
Tidak lama kemudian datang seorang pembeli. Ia baru saja keluar dari sebuah toko dengan membawa beberapa kantong plastik berisi barang belanjaan. Ketika melihat mama itu menjual sayur, ia berhenti dan mulai menawar. Sayur yang harganya sepuluh ribu rupiah itu ditawar menjadi lima ribu rupiah.
Saya cukup kaget mendengarnya. Bukan karena orang menawar itu hal yang aneh di pasar, tetapi karena harga sepuluh ribu rupiah itu sebenarnya sudah sangat murah. Namun yang membuat saya semakin terdiam adalah ketika mama itu langsung mengiyakan tawaran tersebut. Ia tidak membantah dan tidak mencoba mempertahankan harga. Ia hanya mengangguk dan menerima saja.
Melihat itu saya merasa tidak bisa diam. Saya lalu mengatakan kepada pembeli tersebut bahwa harga sepuluh ribu rupiah sebenarnya sudah cukup murah. Sebagai pembeli kita juga perlu melihat keadaan orang yang berjualan. Mama itu sudah duduk berjualan sejak siang hari, tetapi sampai hampir malam jualannya masih banyak. Saya bertanya kepadanya di mana rasa empatinya.
Pembeli itu hanya menjawab bahwa uang yang tersisa padanya hanya lima ribu rupiah. Saya tidak ingin memperpanjang perdebatan. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sayur mama tersebut dengan harga yang lebih mahal dari yang ia sebutkan.
Saat itulah saya melihat sesuatu yang membuat hati saya benar-benar tersentuh. Di samping mama itu ada seorang anak kecil yang duduk diam menemani ibunya. Anak itu tidak memegang makanan dan tidak ada sesuatu yang ia makan. Ia hanya duduk di sana, menunggu ibunya sambil melihat orang-orang yang datang dan pergi di pasar.
Pemandangan itu membuat hati saya terasa berat. Saya tidak tahu kenapa, tetapi saat itu saya seperti membayangkan jika berada di posisi mereka. Seorang ibu yang harus duduk berjam-jam di pasar demi mendapatkan sedikit uang, dan seorang anak kecil yang dengan sabar menemani ibunya tanpa mengeluh.
Dari kejadian sederhana itu saya belajar sesuatu yang penting. Mama-mama yang berjualan di pasar tidak sedang mencari kekayaan. Mereka hanya berusaha memenuhi kebutuhan hidup hari itu. Karena itu kadang yang mereka butuhkan bukan hanya pembeli, tetapi juga sedikit pengertian dan empati dari kita yang datang untuk berbelanja.
Kadang kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana perjuangan seseorang sampai ia duduk di tempat itu. Kita hanya datang sebagai pembeli, melihat barang yang dijual, lalu menawar harga tanpa memikirkan cerita di baliknya. Padahal di balik sayur yang sederhana itu ada kerja keras, ada harapan, dan ada kehidupan yang sedang berusaha bertahan.
#mamapapua #ayoberempati #fllx24
Sabtu, 07 Maret 2026
Melihat Papua Tidak Cukup dari Satu Piring Papeda
Hari-hari tong foto atau buat video makan papeda lalu dibagikan di media sosial. Hampir setiap hari begitu. Dan dari situ banyak orang di luar Papua yang melihat lalu langsung menarik kesimpulan sendiri. Mereka berpikir kitong di sini trada beras, jadi hanya makan papeda atau hasil-hasil kebun saja setiap hari. Lama-lama muncul anggapan kalau kehidupan di Papua ini serba kekurangan.
Padahal cara berpikir seperti itu terlalu sederhana dan terburu-buru. Media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Apa yang muncul di layar bukan keseluruhan kenyataan. Tapi sering kali orang merasa sudah cukup tahu hanya dari satu foto atau satu video.
Papeda bagi kitong bukan sekadar makanan karena tidak ada pilihan lain. Papeda adalah makanan tradisional yang sudah ada jauh sebelum banyak orang mengenal nasi sebagai makanan pokok. Itu warisan budaya yang sudah lama hidup bersama masyarakat di tanah ini. Tong makan papeda karena itu bagian dari kebiasaan hidup, bagian dari identitas, dan juga karena tong bangga dengan makanan yang lahir dari tanah sendiri.
Di Papua juga ada beras. Tong juga makan nasi. Ada mie, ada ikan, ada sayur, ada banyak jenis makanan lain seperti di daerah-daerah lain di Indonesia. Tidak ada yang aneh dengan itu. Tapi ketika tong memilih memperlihatkan papeda di media sosial, itu sebenarnya cara tong memperkenalkan budaya sendiri kepada orang lain. Cara sederhana untuk bilang bahwa Papua juga punya kekayaan makanan dan tradisi yang tidak kalah dari daerah lain.
Masalahnya sering muncul ketika orang melihat sesuatu dari jauh lalu merasa sudah tahu semuanya. Dari satu potongan kecil cerita mereka membuat kesimpulan besar tentang kehidupan orang lain. Dari situlah muncul stereotip, muncul cara pandang yang merendahkan tanpa sadar.
Padahal apa yang dilihat di media sosial hanyalah permukaan. Kehidupan nyata jauh lebih luas dari apa yang terlihat di layar handphone.
Dan tulisan ini sebenarnya bukan hanya tentang papeda. Ini tentang bagaimana orang sering melihat Papua dari potongan-potongan kecil lalu merasa sudah memahami seluruh kenyataan. Ini tentang bagaimana identitas suatu daerah sering disederhanakan hanya dari satu hal yang paling mudah terlihat. Ini juga tentang bagaimana penilaian bisa terbentuk tanpa pernah benar-benar mengenal kehidupan masyarakatnya secara dekat.
Papeda hanya contoh kecil. Yang lebih penting adalah cara kita melihat dan memahami satu sama lain. Karena kalau cara melihatnya sudah keliru dari awal, maka kesimpulan yang lahir juga akan selalu keliru.
#Papeda #melihatpapua #budayapapua #fllx24
Kamis, 05 Maret 2026
Welcome to My Blog
Hallo semuanya,
Selamat datang di blog saya, perkenalkan nama saya Godlief Patrice Felixe Muabuay, saya adalah mahasiswa Fakultas Seni pertunjukan program studi Tari di Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua.
Di blog ini saya akan berbagi catatan kehidupan, pengalaman, serta cerita tentang perjalanan saya dalam dunia tari dan kehidupan sehari-hari saya, Selain tulisan, blog ini juga akan berisi berbagai bentuk konten seperti foto, gambar, maupun video. Semua itu akan menjadi bagian dari cara saya berbagi cerita, pengalaman, dan momen-momen yang saya alami. Dengan begitu, blog ini menjadi ruang bagi saya untuk mengekspresikan diri dan menyimpan berbagai kenangan dari perjalanan hidup saya.
Saya berharap blog ini dapat menjadi tempat yang bermanfaat untuk mengekspresikan diri serta berbagi cerita dengan siapa saja yang membacanya.
Terima kasih sudah berkunjung di blog saya. Semoga ke depannya saya bisa terus menulis dan membagikan berbagai cerita lainnya di blog ini.
Ballllaaa...🔥
![]() |
| Tari penyambutan dari suku Biak, Papua✨ |
Sound Walk
Dengar rekaman orang lain menarik, tapi lebih menarik dengar rekaman sendiri wkwk. Buka link di bawa ini untuk dengar sa pu rekaman suara. ...
-
-Oleh Felixe M Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri tentang hal ini. Mengapa ketika berbelanja di toko kita hampir tidak pernah menaw...
-
Hari-hari tong foto atau buat video makan papeda lalu dibagikan di media sosial. Hampir setiap hari begitu. Dan dari situ banyak orang di lu...
-
Dengar rekaman orang lain menarik, tapi lebih menarik dengar rekaman sendiri wkwk. Buka link di bawa ini untuk dengar sa pu rekaman suara. ...






