Rabu, 11 Maret 2026

Langkah Awal Saya Belajar Tari Nusantara Melalui Tari Seudati di Taman Budaya Papua

Pada acara Festival Seni Budaya Paguyuban Nusantara yang diselenggarakan di Taman Budaya Papua di Waena, kami menampilkan salah satu tarian tradisional dari Aceh yaitu Tari Seudati. Acara ini menjadi salah satu kegiatan seni yang mempertemukan berbagai budaya dari daerah yang berbeda. Dilaksanakan di tanah Papua, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi para mahasiswa seni untuk belajar, berbagi, dan menunjukkan kecintaan terhadap keberagaman budaya Indonesia.

Tari Seudati dikenal sebagai tarian yang memiliki gerakan kuat, energik, dan penuh semangat. Biasanya tarian ini dibawakan oleh delapan orang penari laki-laki. Dalam tarian ini juga ada seorang pemimpin yang disebut syeh, yang bertugas memimpin gerakan dan mengatur ritme para penari. Gerakan Tari Seudati sangat khas, seperti hentakan kaki, tepukan dada, tepukan paha, serta gerakan tangan yang dilakukan secara kompak sehingga terlihat kuat dan penuh energi.

Namun pada penampilan kami di Festival Seni Budaya Paguyuban Nusantara di Taman Budaya Papua, jumlah penari yang tampil tidak sampai delapan orang seperti dalam bentuk aslinya. Hal ini disesuaikan dengan jumlah penari yang tersedia saat latihan dan penampilan. Walaupun begitu, kami tetap berusaha menampilkan tarian ini dengan baik dan menjaga kekompakan gerakan agar tetap mencerminkan semangat Tari Seudati.

Kami yang membawakan Tari Seudati ini semuanya adalah orang asli Papua. Walaupun tarian ini berasal dari Aceh yang berada sangat jauh dari Papua, kami tetap mempelajarinya sebagai bentuk penghargaan terhadap keberagaman budaya di Indonesia. Di tengah kekayaan budaya Papua yang juga sangat kuat, kami merasa bangga dapat mempelajari dan menampilkan budaya dari daerah lain.

Dalam penampilan ini, dosen kami yang berasal dari Bali juga ikut ambil bagian dalam tarian. Beliau berperan sebagai syeh, yaitu pemimpin dalam Tari Seudati yang memimpin gerakan dan membantu mengatur ritme para penari di atas panggung. Selama proses latihan, beliau juga membimbing kami agar gerakan yang kami lakukan bisa lebih kompak dan sesuai dengan karakter Tari Seudati.

Bagi saya pribadi, penampilan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Ini adalah pertama kalinya saya membawakan tari Nusantara. Selama saya terjun dalam dunia tari, saya lebih sering menarikan tarian dari daerah saya sendiri di Papua. Karena itu, kesempatan ini menjadi pengalaman baru bagi saya untuk mengenal lebih dekat tarian dari daerah lain di Indonesia.

Melalui latihan dan proses tampil di atas panggung, saya belajar banyak hal. Saya harus menyesuaikan diri dengan gerakan Tari Seudati yang kuat dan penuh semangat. Saya juga belajar menjaga kekompakan dengan penari lainnya agar gerakan kami terlihat rapi dan serasi. Pengalaman ini juga membuat saya semakin tertarik untuk mempelajari berbagai tarian Nusantara lainnya.

Penampilan di Taman Budaya Papua di Waena ini menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Dari tanah Papua, kami belajar bahwa seni dapat menyatukan berbagai budaya yang berbeda. Melalui tari, kita dapat saling mengenal, menghargai, dan menjaga keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia.

Pengalaman ini juga memberikan pesan bahwa sebagai generasi muda, kita perlu terus belajar dan menghargai budaya, baik budaya daerah sendiri maupun budaya dari daerah lain. Dengan begitu, kita dapat ikut menjaga dan melestarikan kekayaan budaya bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perempuan, Viralitas, dan Luka di Media Sosial

-Oleh Felixe M Media sosial kembali ramai dengan beredarnya potongan video panggilan pribadi seorang perempuan yang dikenal sebagai figur d...