Hari-hari tong foto atau buat video makan papeda lalu dibagikan di media sosial. Hampir setiap hari begitu. Dan dari situ banyak orang di luar Papua yang melihat lalu langsung menarik kesimpulan sendiri. Mereka berpikir kitong di sini trada beras, jadi hanya makan papeda atau hasil-hasil kebun saja setiap hari. Lama-lama muncul anggapan kalau kehidupan di Papua ini serba kekurangan.
Padahal cara berpikir seperti itu terlalu sederhana dan terburu-buru. Media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Apa yang muncul di layar bukan keseluruhan kenyataan. Tapi sering kali orang merasa sudah cukup tahu hanya dari satu foto atau satu video.
Papeda bagi kitong bukan sekadar makanan karena tidak ada pilihan lain. Papeda adalah makanan tradisional yang sudah ada jauh sebelum banyak orang mengenal nasi sebagai makanan pokok. Itu warisan budaya yang sudah lama hidup bersama masyarakat di tanah ini. Tong makan papeda karena itu bagian dari kebiasaan hidup, bagian dari identitas, dan juga karena tong bangga dengan makanan yang lahir dari tanah sendiri.
Di Papua juga ada beras. Tong juga makan nasi. Ada mie, ada ikan, ada sayur, ada banyak jenis makanan lain seperti di daerah-daerah lain di Indonesia. Tidak ada yang aneh dengan itu. Tapi ketika tong memilih memperlihatkan papeda di media sosial, itu sebenarnya cara tong memperkenalkan budaya sendiri kepada orang lain. Cara sederhana untuk bilang bahwa Papua juga punya kekayaan makanan dan tradisi yang tidak kalah dari daerah lain.
Masalahnya sering muncul ketika orang melihat sesuatu dari jauh lalu merasa sudah tahu semuanya. Dari satu potongan kecil cerita mereka membuat kesimpulan besar tentang kehidupan orang lain. Dari situlah muncul stereotip, muncul cara pandang yang merendahkan tanpa sadar.
Padahal apa yang dilihat di media sosial hanyalah permukaan. Kehidupan nyata jauh lebih luas dari apa yang terlihat di layar handphone.
Dan tulisan ini sebenarnya bukan hanya tentang papeda. Ini tentang bagaimana orang sering melihat Papua dari potongan-potongan kecil lalu merasa sudah memahami seluruh kenyataan. Ini tentang bagaimana identitas suatu daerah sering disederhanakan hanya dari satu hal yang paling mudah terlihat. Ini juga tentang bagaimana penilaian bisa terbentuk tanpa pernah benar-benar mengenal kehidupan masyarakatnya secara dekat.
Papeda hanya contoh kecil. Yang lebih penting adalah cara kita melihat dan memahami satu sama lain. Karena kalau cara melihatnya sudah keliru dari awal, maka kesimpulan yang lahir juga akan selalu keliru.
#Papeda #melihatpapua #budayapapua #fllx24

Tidak ada komentar:
Posting Komentar