Senin, 09 Maret 2026

Kenapa Kitong Rela Bayar Mahal di Toko, Tapi Masih Tega Menawar Mama yang Duduk Jualan di Tanah?

-Oleh Felixe M

Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri tentang hal ini. Mengapa ketika berbelanja di toko kita hampir tidak pernah menawar harga, tetapi ketika datang ke pasar dan melihat mama-mama yang duduk berjualan di tanah, kita justru sibuk menawar harga yang sebenarnya sudah sangat murah.

Di toko-toko besar kita terbiasa membayar sesuai harga yang tertera. Tidak ada tawar-menawar. Kita mengambil barang, menuju kasir, lalu membayar tanpa banyak berpikir. Tetapi suasananya sering berbeda ketika kita berada di pasar tradisional. Di sana, ketika melihat mama-mama yang menjual hasil kebun mereka sendiri, tiba-tiba kita merasa harga itu masih bisa diturunkan. Padahal mama-mama itu tidak datang ke pasar untuk menjadi kaya. Mereka hanya membawa apa yang mereka miliki dari kebun. Singkong, keladi, petatas, sayur bunga pepaya, kangkung, rica, tomat, pisang, dan beberapa bumbu dapur. Semua itu mereka siapkan sejak pagi, bahkan mungkin sejak subuh. Setelah itu mereka membawanya ke pasar dan duduk berjam-jam di atas tikar sederhana, berharap ada yang membeli.

Bagi kita mungkin sepuluh ribu rupiah terlihat kecil. Tetapi bagi mereka, uang itu bisa berarti beras untuk makan malam, atau kebutuhan kecil untuk anak-anak mereka di rumah. Di balik harga yang kita tawar sebenarnya ada tenaga, waktu, dan harapan yang mereka bawa dari rumah.

Suatu hari ketika saya berbelanja di pasar, saya melihat sendiri sebuah kejadian yang membuat saya cukup terdiam. Saat itu ada seorang mama yang sedang duduk di tanah dengan tikar sederhana. Di depannya tersusun sayur-sayuran yang ia jual. Harganya tidak mahal, hanya sepuluh ribu rupiah satu ikat. Saya juga melihat jualannya masih sangat banyak, padahal waktu sudah lewat siang dan hari mulai sore.

Tidak lama kemudian datang seorang pembeli. Ia baru saja keluar dari sebuah toko dengan membawa beberapa kantong plastik berisi barang belanjaan. Ketika melihat mama itu menjual sayur, ia berhenti dan mulai menawar. Sayur yang harganya sepuluh ribu rupiah itu ditawar menjadi lima ribu rupiah.

Saya cukup kaget mendengarnya. Bukan karena orang menawar itu hal yang aneh di pasar, tetapi karena harga sepuluh ribu rupiah itu sebenarnya sudah sangat murah. Namun yang membuat saya semakin terdiam adalah ketika mama itu langsung mengiyakan tawaran tersebut. Ia tidak membantah dan tidak mencoba mempertahankan harga. Ia hanya mengangguk dan menerima saja.

Melihat itu saya merasa tidak bisa diam. Saya lalu mengatakan kepada pembeli tersebut bahwa harga sepuluh ribu rupiah sebenarnya sudah cukup murah. Sebagai pembeli kita juga perlu melihat keadaan orang yang berjualan. Mama itu sudah duduk berjualan sejak siang hari, tetapi sampai hampir malam jualannya masih banyak. Saya bertanya kepadanya di mana rasa empatinya.

Pembeli itu hanya menjawab bahwa uang yang tersisa padanya hanya lima ribu rupiah. Saya tidak ingin memperpanjang perdebatan. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sayur mama tersebut dengan harga yang lebih mahal dari yang ia sebutkan.

Saat itulah saya melihat sesuatu yang membuat hati saya benar-benar tersentuh. Di samping mama itu ada seorang anak kecil yang duduk diam menemani ibunya. Anak itu tidak memegang makanan dan tidak ada sesuatu yang ia makan. Ia hanya duduk di sana, menunggu ibunya sambil melihat orang-orang yang datang dan pergi di pasar.

Pemandangan itu membuat hati saya terasa berat. Saya tidak tahu kenapa, tetapi saat itu saya seperti membayangkan jika berada di posisi mereka. Seorang ibu yang harus duduk berjam-jam di pasar demi mendapatkan sedikit uang, dan seorang anak kecil yang dengan sabar menemani ibunya tanpa mengeluh.

Dari kejadian sederhana itu saya belajar sesuatu yang penting. Mama-mama yang berjualan di pasar tidak sedang mencari kekayaan. Mereka hanya berusaha memenuhi kebutuhan hidup hari itu. Karena itu kadang yang mereka butuhkan bukan hanya pembeli, tetapi juga sedikit pengertian dan empati dari kita yang datang untuk berbelanja.

Kadang kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana perjuangan seseorang sampai ia duduk di tempat itu. Kita hanya datang sebagai pembeli, melihat barang yang dijual, lalu menawar harga tanpa memikirkan cerita di baliknya. Padahal di balik sayur yang sederhana itu ada kerja keras, ada harapan, dan ada kehidupan yang sedang berusaha bertahan.

#mamapapua #ayoberempati #fllx24

Sabtu, 07 Maret 2026

Melihat Papua Tidak Cukup dari Satu Piring Papeda

Hari-hari tong foto atau buat video makan papeda lalu dibagikan di media sosial. Hampir setiap hari begitu. Dan dari situ banyak orang di luar Papua yang melihat lalu langsung menarik kesimpulan sendiri. Mereka berpikir kitong di sini trada beras, jadi hanya makan papeda atau hasil-hasil kebun saja setiap hari. Lama-lama muncul anggapan kalau kehidupan di Papua ini serba kekurangan.

Padahal cara berpikir seperti itu terlalu sederhana dan terburu-buru. Media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Apa yang muncul di layar bukan keseluruhan kenyataan. Tapi sering kali orang merasa sudah cukup tahu hanya dari satu foto atau satu video.

Papeda bagi kitong bukan sekadar makanan karena tidak ada pilihan lain. Papeda adalah makanan tradisional yang sudah ada jauh sebelum banyak orang mengenal nasi sebagai makanan pokok. Itu warisan budaya yang sudah lama hidup bersama masyarakat di tanah ini. Tong makan papeda karena itu bagian dari kebiasaan hidup, bagian dari identitas, dan juga karena tong bangga dengan makanan yang lahir dari tanah sendiri.

Di Papua juga ada beras. Tong juga makan nasi. Ada mie, ada ikan, ada sayur, ada banyak jenis makanan lain seperti di daerah-daerah lain di Indonesia. Tidak ada yang aneh dengan itu. Tapi ketika tong memilih memperlihatkan papeda di media sosial, itu sebenarnya cara tong memperkenalkan budaya sendiri kepada orang lain. Cara sederhana untuk bilang bahwa Papua juga punya kekayaan makanan dan tradisi yang tidak kalah dari daerah lain.

Masalahnya sering muncul ketika orang melihat sesuatu dari jauh lalu merasa sudah tahu semuanya. Dari satu potongan kecil cerita mereka membuat kesimpulan besar tentang kehidupan orang lain. Dari situlah muncul stereotip, muncul cara pandang yang merendahkan tanpa sadar.

Padahal apa yang dilihat di media sosial hanyalah permukaan. Kehidupan nyata jauh lebih luas dari apa yang terlihat di layar handphone.

Dan tulisan ini sebenarnya bukan hanya tentang papeda. Ini tentang bagaimana orang sering melihat Papua dari potongan-potongan kecil lalu merasa sudah memahami seluruh kenyataan. Ini tentang bagaimana identitas suatu daerah sering disederhanakan hanya dari satu hal yang paling mudah terlihat. Ini juga tentang bagaimana penilaian bisa terbentuk tanpa pernah benar-benar mengenal kehidupan masyarakatnya secara dekat.

Papeda hanya contoh kecil. Yang lebih penting adalah cara kita melihat dan memahami satu sama lain. Karena kalau cara melihatnya sudah keliru dari awal, maka kesimpulan yang lahir juga akan selalu keliru.

#Papeda #melihatpapua #budayapapua #fllx24


Kamis, 05 Maret 2026

Welcome to My Blog

 Hallo semuanya,

Selamat datang di blog saya, perkenalkan nama saya Godlief Patrice Felixe Muabuay, saya adalah mahasiswa Fakultas Seni pertunjukan program studi Tari di Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua.

Di blog ini saya akan berbagi catatan kehidupan, pengalaman, serta cerita tentang perjalanan saya dalam dunia tari dan kehidupan sehari-hari saya, Selain tulisan, blog ini juga akan berisi berbagai bentuk konten seperti foto, gambar, maupun video. Semua itu akan menjadi bagian dari cara saya berbagi cerita, pengalaman, dan momen-momen yang saya alami. Dengan begitu, blog ini menjadi ruang bagi saya untuk mengekspresikan diri dan menyimpan berbagai kenangan dari perjalanan hidup saya.

Saya berharap blog ini dapat menjadi tempat yang bermanfaat untuk mengekspresikan diri serta berbagi cerita dengan siapa saja yang membacanya.

Terima kasih sudah berkunjung di blog saya. Semoga ke depannya saya bisa terus menulis dan membagikan berbagai cerita lainnya di blog ini. 

Ballllaaa...🔥

Tari penyambutan dari suku Biak
Tari penyambutan dari suku Biak, Papua✨


Kenapa Kitong Rela Bayar Mahal di Toko, Tapi Masih Tega Menawar Mama yang Duduk Jualan di Tanah?

-Oleh Felixe M Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri tentang hal ini. Mengapa ketika berbelanja di toko kita hampir tidak pernah menaw...